Selasa, 26 Juli 2011

Mengadakan Perayaan di Kuburan, Mereka Makan Bersama ( Islam dilarang Tasyabbuh )

Prosesi upacara di kuburan itu dilakukan terutama bagi umat Hindu yang masih mempunyai tetaneman atau mayat yang sudah dikuburkan, namun keluarganya belum bisa melakukan upacara ngaben.

 

PERAYAAN hari Pagerwesi di Buleleng, terutama di Kota Singaraja, memang berbeda dengan daerah lain di Bali. Jika di daerah lain, warga merayakan dengan santai, umat Hindu di Bumi Panji Sakti ini menjalani perayaan dengan sangat istimewa dan unik. Selain melakukan persembahyangan di pura dan merajan, umat di Kota Singaraja ternyata juga ramai-ramai mendatangi kuburan. 

Sejak sekitar pukul 05.00 wita, Rabu (14/11) kemarin, sejumlah kuburan atau setra milik desa adat di kawasan Kota Singaraja dan sekitarnya terlihat begitu ramai. Seperti yang tampak di setra Desa Adat Buleleng di Jalan Gajah Mada, setra Desa Adat Banyuasri di Jalan Sudirman, setra di Desa Adat Banyuning, Desa Adat Baktiseraga dan sekitarnya. Warga datang ke kuburan lengkap dengan anggota keluarganya. Selain menghaturkan banten bagi leluhurnya, di kuburan yang rata-rata memang lapang itu para keluarga mengadakan kegiatan makan bersama.
Selain membawa banten, warga juga membawa perbekalan makan. Mereka akan duduk-duduk di sekitar nisan tempat jasad orangtua, kakek, nenek atau kerabat mereka dikuburkan. Jika dilihat sepintas, kegiatan mereka persis seperti kegiatan orang rekreasi atau berlibur di sebuah kebun raya. Hanya bedanya, mereka berpakaian adat dan membawa bermacam-macam sesajen.
Kegiatan heboh seperti itu di Bali Selatan, seperti Gianyar, Tabanan, Badung dan sekitarnya, tentu saja akan susah ditemukan. Sebagian besar masyarakat di Buleleng tak bisa menjelaskan secara rinci, sejak kapan dan kenapa Pagerwesi di Bali Utara itu dirayakan lebih meriah dibandingkan kabupaten lain di Bali. Bahkan, diisi dengan kegiatan ritual di kuburan.
Gede Pastika dari Bale Agung mengatakan kegiatan ritual di setra itu sudah dilakoninya sejak ia masih kecil. Prosesi upacara di kuburan itu dilakukan terutama bagi umat yang masih mempunyai tetaneman atau mayat yang sudah dikuburkan, namun keluarganya belum bisa melakukan upacara ngaben. "Di kuburan, umat biasanya menghaturkan sodaan, punjung atau sesajen," katanya.
Menurut Klian Desa Pakraman Buleleng, kegiatan Pagerwesi di Buleleng terutama di Desa Adat Buleleng memang lebih istimewa dibanding di daerah lain. Yang paling istimewa, memang proses ritual di kuburan yang dilakukan umat secara turun-temurun. Selain menghaturkan sodaan dan punjung, di sesajen yang dihaturkan di setra itu juga dilengkapi dengan sarana upacara guru piduka yang dihaturkan di Pura Prajapati.
"Ini biasanya dilakukan bagi umat yang memiliki tetaneman lebih dari tujuh tahun dan belum bisa melaksanakan upacara ngaben. Tujuannya, agar arwah leluhur tidak berubah menjadi Buta Cuil. "Buta Cuil inilah yang bisa ngerubeda atau menyakiti keluarga," katanya. (ole)
Sumber:


PANDANGAN ISLAM

Dari Abu Hurairah Rasulullah bersabda:

لاَ تَجْعَلُواْ بُيُوْتَكُمْ قُبُوْرًا. وَلاَ تَجْعَلُوْا قَبْرِى عِيْدًا (رواه أبوداود


“Janganlah engkau jadikan rumah-rumahmu sebagai kuburan (sepi dari ibadah) dan jangan engkau jadikan kuburanku sebagai tempat perayaan (HR. Abu Dawud).

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash radhiallahu anhuma dia berkata: Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:


لَيْسَ مِنَّا مَنْ تَشَبَّهَ بِغَيْرِنَا


Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami.” (HR. At-Tirmizi no. 2695)

Dari Abdullah bin Umar radhiallahu anhuma dia berkata: Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:


مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ


“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud no. 4031 dan dinyatakan shahih oleh Al-Albani dalam Ash-Shahihah: 1/676)

---------------
Sahabatmu;
Anwar Baru Belajar